Friday, April 18, 2014

Selamat Memperingati Paskah!

Hello Chocotalkers!

Wah, hari minggu sebentar lagi.. Minggu ini hari Paskah ya?

Habis googling tentang ucapan selamat paskah, nih. Yup, yang dalam bahasa Inggris sering terdengar dalam 2 versi. Itu, lo! "Happy easter!" dan "Happy passover!". Hm.. Kalian punya opini apa, nih, untuk topic ini? :)

Well, ternyata ada sedikit berbedaan cara pandang, ya. :) Tapi tidak apa-apa. Saya merasa hal ini tetap ada faedahnya. Apa itu?

Pertama, kita telusuri dulu yuk, tentang arti dari nama-nama itu.

'Easter' berasal dari nama dewi Isthar (dari Sumeria) atau dewi Eostre/ Astarte (dari Teutonik). “Easter” digunakan di Inggris, “Eastur” di bahasa Jerman kuno, sebagai kata lain musim semi.

Sedang di negara- negara lain, digunakan istilah yang berbeda: “Pascha” (bahasa Latin dan Yunani), ” Pasqua” (Italia), “Pascua” (Spanyol), “Paschen” (Belanda), …dst yang semua berasal dari kata Ibrani (“Pesach”) yang artinya “melewati” (lihat kamus alkitab). Inilah yang dimaksud "passover".

Okay... Kalau mengacu pada arti kata yang sebenarnya, saya setuju dengan "Happy passover!" dong.

Peristiwa paskah yang dilakukan Yesus di salib menunjukkan makna yang sama dengan yang terjadi pada bangsa Israel dalam kitab Keluaran 12, yaitu pembebasan bagi yang percaya kepada karya penebusan Tuhan. Namun tentunya, penebusan yang rela dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri merupakan penyempurnaan, karena sesudah Yesus menang atas maut, tidak ada lagi korban yang diperlukan untuk mengambil darah penebusan (seperti yang dibubuhkan bangsa Israel di tiang pintu).

Nah, entah bagaimana dulu terjadinya, sepertinya istilah easter yang dikaitkan dengan musim semi, atau timur di mana matahari terbit, atau ada yang mengkaitkan dengan legenda bangsa Yunani yaitu dewi Ishtar, memiliki peristiwa yang dipaspasin supaya mirip.

Bisa saja dulu misionaris menganalogikan paskah dengan itu semua dalam rangka memperkenalkan paskah. Seperti telur paskah yang dimaknai sebagai awal kehidupan. Padahal, itu semua tentu bukanlah pengajaran tentang paskah yang sebenarnya.

Tapi seperti yang saya katakan tadi, hal ini (yaitu mengupas ataupun mempersoalkan atau mendiskusikan, mana sih istilah yang betul) tetap ada faedahnya. Yaitu menyebabkan makin diperdengarkannya kasih Tuhan, yang mengadakan paskah bagi umat manusia.

Yup. Bagi orang-orang yang tidak mempermasalahkan namun sudah paham mengenai perayaan paskah sesuai firman Tuhan sih, it's OK. Tapi toh belum tentu pula yang tahu itu bicara (apalagi secara jelas?) kepada yang belum tahu, kan? Nah, sering kali, hal-hal sepele seperti protes kecil kecilan itu justru jadi media tersebarnya berita tentang Tuhan. Bahkan jadi alat pemicu seseorang jadi concern akan kebenaran.

Sebetulnya saya pribadi sih termasuk yang tidak mempermasalahkan istilah-istilah itu. :D Iya, itu karena saya rasa, yang lebih penting untuk dimengerti itu sejarahnya. Bahwa setelah Yesus disalib lalu wafat, pada hari ketiga Ia bangkit dan menang atas dosa. Itu yang dimaksud dengan passover.

Well, dengan memposting ini, saya berusaha memperjelas sedikit tentang fakta paskah yang sebenarnya. Sekaligus kenapa sampai dihubungkan dengan hal yang tidak ada hubungannya dengan pengorbanan dan kebangkitan Yesus.

Jadi Chocotalkers, jangan beranggapan merayakan paskah harus dengan menghias telur atau ilustrasi kelinci lagi, yaa.. Karena itu sudah bukan inti dari paskah sesungguhnya.. ;)

Happy passover, Chocotalkers! Bahkan ingatlah tentang kemenangan Kristus setiap saat, bukan hanya pas hari paskah saja! :)

Wednesday, April 9, 2014

Seri Kisah Pengusaha: Sejarah Taksi Blue Bird (Bagian 1)


Gara-gara banjir, suatu hari gw terjebak kemacetan di Jl Mampang Prapatan dalam perjalanan menuju kantor. Daripada menggerutu bete, gw iseng perhatiin situasi di sekitar. Lalu terlihatlah pool Blue Bird yang sebenernya sering gw lewatin, tapi sebelumnya ngga pernah memunculkan inspirasi apa-apa. Entah kenapa di hari itu tiba-tiba muncul rasa penasaran, gimana sih sejarahnya perusahaan ini?

Gw termasuk pelanggan setia taksi Blue Bird, dan sejauh ini gw cukup puas dengan layanannya. Ngeliat Blue Bird yang jumlah armadanya terus bertambah, fasilitasnya cukup diperhatikan, dan ngga segan2 invest untuk teknologi baru (misalnya GPS, di jaman GPS belum booming seperti beberapa tahun terakhir), gw dulunya berasumsi kalau Blue Bird ini pasti dari awalnya didirikan dengan modal kuat didukung fasilitas lengkap. Maka itu dia bisa survive sekian lama dan tetap memimpin di dunia transportasi, khususnya layanan taksi. Sepengetahuan gw, pengemudi2 Blue Bird relatif lebih sejahtera atau mendapat imbalan yang lebih layak dibanding perusahaan taksi lain. Intinya, dari layanan mereka, pelanggan juga bisa merasakan kalau perusahaan ini dikelola dengan baik, sepenuh hati, dan nggak asal2-an.

Tapi, dengan fasilitas dan layanan ok itu, benarkah asumsi gw bahwa Blue Bird didirikan dengan 'mudah' didukung modal yang kuat? Uhmm.. setelah gw tanya2 mbah Gugel dan baca2 beberapa sumber yang keluar, barulah gw sadar ternyata asumsi gw keliru!

Blue Bird bukan didirikan pengusaha kaliber kakap dengan modal melimpah. Sebaliknya, berdirinya Blue Bird diprakarsai seorang wanita sederhana yang baru saja ditinggalkan suaminya yang wafat karena sakit. Wanita itu adalah almarhumah Ny. Mutiara Djokosoetono.

Bu Djoko lahir pada tanggal 17 Oktober 1921 di tengah keluarga berada, namun pada usia 5 tahun keluarganya bangkrut. Ia meniti bangku sekolah dalam kesederhanaan luar biasa. Makanan yang tak pernah cukup, pakaian seadanya, tak pernah ada uang jajan. Hidupnya betul-betul bertumpu pada kekuatan untuk tabah. Menginjak remaja ketegarannya semakin terasah. Ia pun bertekad memperkaya diri dengan ilmu dan kepintaran. Di saat sulit itu ia suka membaca kisah-kisah inspiratif yang ia peroleh dengan meminjam, salah satunya adalah kisah legendaris yang selalu menghiburnya: 'Kisah Burung Biru' atau 'The Bird of Happiness'.

Usai menyelesaikan pendidikan HBS dan lulus Sekolah Guru Belanda, Bu Djoko memutuskan merantau ke Jakarta dan berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kemudian jalan hidup mempertemukannya dengan Djokosoetono, dosen yang mengajarnya, sekaligus pendiri serta Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Mereka menikah ketika Bu Djoko masih kuliah.

Bu Djoko dikaruniai 3 anak yaitu Chandra Suharto, Mintarsih Lestiani, dan Purnomo Prawiro. Sepanjang dasawarsa 50-an, Bu Djoko menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Ia dan keluarganya menempati rumah dinas atas pekerjaan suaminya di kawasan Menteng. Walau dikelilingi lingkungan yang mewah dengan status ekonomi di atas rata-rata, keluarga Djokosoetono praktis hanya memiliki uang kebutuhan berjalan. 

Untuk menambah penghasilan keluarga, Bu Djoko berjualan batik door to door. Tak ada gengsi, tak ada malu, tak ada rasa takut direndahkan oleh sesama isteri pejabat tinggi. Semuanya dilakukan murni sebagai kepedulian isteri untuk membantu suami mencari nafkah. Namun penjualan batik yang sempat sukses kemudian menurun. Bu Djoko pun berganti haluan menjadi penjual telur. Saat itu telur belum sepopuler sekarang dan dianggap bahan makanan eksklusif yang hanya dikonsumsi orang-orang menengah ke atas. Bu Djoko mencari pemasok telur terbaik di Kebumen dan perlahan-lahan usaha telur Bu Djoko dan keluarga terus meningkat. 

Akan tetapi, kegembiraan atas keberhasilan usaha ini tidak berlangsung lama, karena kesedihan memikirkan sakit Pak Djoko yang tak kunjung sembuh. Walau mendapat perawatan yang ditunjang sepenuhnya oleh pemerintah, akhirnya beliau wafat pada tanggal 6 September 1965.

Bagaimana Bu Djoko menghadapi masa sulit ini dan akhirnya mendirikan layanan taksi Blue Bird? Nantikan di entry berikutnya, ya..

Friday, April 4, 2014

Marketing 3.0 di Khotbah Minggu

Cuma teringat lagi khotbah di gereja minggu terakhir kemarin. Jadi saat itu khotbah yang dibawakan mengenai Tuhan Melihat Hati.

Dalam kesempatan itu, pendeta yang membawa firman mengulik sedikit tentang marketing 3.0.

Apa itu marketing 3.0? Saya bertanya dalam hati. Entah baru dengar atau dulu sudah, tapi lalu lupa. :D

Ternyata setelah googling, kira-kira inti dari marketing 3.0 itu, dilakukan berdasarkan nilai-nilai universal, seperti kasih dan ketulusan. Jadi fokus perusahaan tidak hanya menjual produk, tidak juga hanya memuaskan dan membuat konsumen loyal. Lebih dari itu, membuat dunia menjadi lebih baik. Perusahaan melihat konsumen sudah secara holistic; tidak sekedar fisik, ataupun emosi dan rasio, namun keseluruhan; mind, body, spirit. Begitu kira-kira, yang berhasil saya cek.

Namun Chocotalker, kita ngga hanya penting mengetahuinya, ya. Sebagai mahluk sosial dan mungkin juga bersemangat entrepreneur, nilai-nilai itu tentu penting untuk diterapkan, karena tentunya mendukung hubungan baik kita dengan sesama dan juga diri kita sendiri. Iya.. dengan diri kita, karena dengan demikian kita akan bersikap tulus terhadap orang lain, sebagaimana terhadap diri sendiri. Jadi dalam berbisnis kita ngga men-set up pikiran dengan pola “yang penting gue untung, ngga peduli orang lain”. ;)

Sekedar teringat, dulu waktu saya masih SD, saya tertarik dengan supermarket. Kenapa? Dunia rasanya praktis. Tidak perlu lagi interaksi yang penuh basa basi. Barang tinggal ambil, bayar, lalu pulang. Begitu juga kalau saya yang jadi kasir, tinggal hitung, terima uang, bungkus barang konsumen, selesai. Hehe… Efek dari rasa malu atau terlalu membatasi diri dari pergaulan? *nyengir*

Yang jelas, makin ke sini saya makin sadar, mau setertib apapun sistem yang dibuat, tetap perlu pakai hati. Toleransi. Keikhlasan. Bentuk paling sederhana yang mudah diterapkan adalah senyum, meskipun pada orang yang sepertinya tidak penting.

Akhirnya, mungkin karena materi itu mulanya dari pendeta, saya menyimpulkan sendiri: Marketing 3.0 baru sukses diterapkan kalau manusia melakukannya setulus melakukan untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Gimana menurut kalian, Chocotalker? Tulis pendapat kalian di kolom comment yaa.. Thank you ;)

Thursday, March 27, 2014

Pengalaman Memanfaatkan Antibiotik alami

Hai Chocotalker...! :)

Baiklah.. Jadi, saya tertarik memposting pengalaman saya memanfaatkan obat herbal sebagai antibiotik alami. Awalnya sih simpel saja: karena mendengar kabar teman yang lagi ngga fit. Dan memang ternyata, sakit seperti radang tenggorokan yang sekilas kayaknya remeh itu, bisa bikin pekerjaan dan perasaan terganggu. Yang sakit tenggorokannya, tapi yang terkena dampaknya seluruh tubuh. Betul, kan?

Kenapa pada akhirnya saya mencari alternatif ini? Awalnya karena dulu saya pernah menemukan ketidakcocokan mengonsumsi sebagian antibiotik sintetis. Iya, ngga cocok. Istilah kedokteran saya mengalami intoksinasi alias gejala keracunan. Meskipun antibiotik yang saya minum itu ternyata cocok cocok saja dikonsumsi orang lain...

Nah, dari situ saya mulai mencari tahu antibiotik alami lewat google. Dan inilah hasilnya...

1. Bawang Putih

Hm.. Yang anti bau bawang putih pasti tutup hidung duluan, deh. Tapi percaya ngga, saking pengen sembuh batuk saya nekat mengunyah bawang putih, satu saja cukup, dengan mempersiapkan segelas air putih untuk cepat-cepat minum sesudahnya. Pedasnya menyengat di kulit pipi yang kena. Tapi ternyata manjur, lo! Gatal di leher, hilang. Atau kalau gatal karena serangga di kaki, gosok bawang putih, cepat sembuh. Demam, turun.

Tapi masalahnya, saya mulai ngga nyaman setelah dapat info tentang sifatnya menurunkan tekanan darah. So, saya konsumsinya tidak serajin dulu, Chocotalker.. Padalah tadinya, meskipun ngga lagi sakit, saya suka tambahkan bawang putih kalau lagi bikin green smoothies.

Oya, sebetulnnya bawang merah termasuk mengandung antibiotik juga, lho. Cuma saya lebih sering memanfaatkan bawang putih.

2. Jahe Merah.

Nah, yang ini tidak berbau seperti bawang putih. Enak buat minuman sore. Kalau tekanan darah Chocotalker rendah, apalagi. Karena jahe-jahean memang menaikkan tekanan darah.

Pernah, satu kali ibu saya yang memang tekanan darahnya tinggi, ngga sengaja minum dari gelas saya. Isi gelas waktu itu air jahe merah. Alhasil bikin tekanan darahnya cepat naik. Tapi, puji Tuhan banget, ibu saya masih tertolong. Waktu itu pertolongan pertamanya memang bukan mencari herbal lain seperti mentimun, tapi cepat-cepat ke klinik terdekat.

3. Kunyit.

Di antara Chocotalker, ada yang suka kunyit asem? Nah, salahsatu bahan dasarnya, yaitu kunyit, ternyata merupakan antibiotik alami juga. Bahkan dari hasil baca di twitter, waktu itu akun seorang praktisi kesehatan yang saya follow, dia meyakini kunyit adalah yang terbaik dari antara antibiotik lain yang saya tanyakan (sudah pasti, jahe dan bawang putih). Dan waktu konsultasi dengan seorang dokter langganan, dia juga lebih mengakui kunyit.

Kekurangannya? Hehe.. menurut saya hanya masalah pengolahan. Repot karena saya ngga suka tangan jadi kuning dengan mengupas, lalu memarut dan menyeduh. Meskipun hasilnya tentu bisa sebagai minuman jamu yang enak menurut saya.

Di antara Chocotalker, ada yang suka mengolah kunyit? Boleh saja mengolahnya menjadi minuman. Hanya saja, jika ingin mendapatkan khasiatnya, disarankan untuk jangan terlalu lama dipanaskan.


Selamat menikmati khasiat bahan alami! Kalau ada yang mau menambahkan, boleh banget, lho! ;)

Sunday, February 23, 2014

Terhilang Di Rumah Bapa



Kita sudah terlalu sering membaca perumpamaan anak yang hilang di Injil Lukas 15.

15:11 Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.
15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.
15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
15:26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Dulu aku pikir, anak yang hilang adalah anak yang bungsu. Memang sih. Terlihat jelas bahwa dia adalah anak yang kurang ajar, tidak tahu diri, menghambur-hamburkan warisan padahal papanya masih ada. Mungkin jika boleh lancang, maka kita akan berkata: “kurang ajar banget nih orang”.

Tapi setelah berpikir-pikir tentang anak sulung (karena aku adalah anak sulung), aku jadi merasa kasihan dengan anak sulung ini. Masak Bapanya tidak pernah sekalipun memberikan penghargaan? Sudah setianya luar biasa, kerja di ladang siang dan malam, ya sekali-kali diadakan pesta untuknya? Apa susahnya sih berpesta, potong sapi satu ekor, kasih baju bagus dan kasih perhiasan? Pelit amat nih bapaknya?

Tapi sebenarnya ada satu hal yang fatal yang dilakukan oleh si anak sulung. Dia tidak menyadari hak kesulungannya sebagai pewaris langsung dari ayahnya. Dia tidak menyadari bahwa segala hal yang dimiliki oleh ayahnya adalah miliknya juga. Masih membandingkan dengan hal yang diberikan oleh bapanya kepada adiknya.

Kok gw ga pernah di rayain? Kok dd gw yang brengsek itu di rayain? Gw mana pernah dipotongin sapi? Mana???

Sebagai anak sulung dalam keluarga Yahudi, anak sulung berhak mewarisi semua harta ayahnya. Itu berarti, bahwa semua harta ayahnya adalah hartanya.

Kita adalah pewaris kerajaan Allah. Kita sekarang sudah berada dalam kerajaanNya ketika kita menerima Yesus sebagai Bapa kita. Namun sering kali kita menjadi anak sulung. Terhilang dalam rumah Bapanya sendiri. Kita sudah jadi kristen, mengikuti aktivitas kristen, dan lain lain. Kayaknya sibuk, tapi kita tidak tau bahwa sebenarnya kita sudah jadi terhilang.

Kotbah tiap minggu di gereja jadi hambar, doa-doa yang kita benturkan sepertinya terhalang tembok, malas saat teduh, malas baca firman, dan lain lain.

Hati-hati saudara. Mungkin kita sudah termasuk dalam Kerajaan Allah. Mungkin kita sudah menerima Dia sebagai Bapa kita. Tapi adalah penting untuk mengetahui hak-hak kita sebagai anak sulung. Jangan sampai karena keadaan tidak baik (tidak mendapat berkat, tidak pernah dirayakan pesta, tidak pernah diberi stempel emas kayak si bungsu) lalu kita merasa malas kemudian terhilang dalam rumah Bapa.

Teman-teman, kalau saat ini kalian berjalan dalam kerajaan Bapa, pastikan kalian jangan sampai terhilang di dalam rumah Bapa sendiri. Terus ingat kasih mula-mula, dan pastikan kita tetap berada dalam rumah Bapa sampai Yesus datang kedua kali. Amin.

original article by Mia Liem, Terhilang Di Rumah Bapa, Cross-
Written.Com (with necessary lingual editing)

Wednesday, February 19, 2014

Habis Manis, Sepah Dibuang



Rasanya menyakitkan jika kita yang menjadi korban seperti yang digambarkan oleh peribahasa yang menjadi judul artikel ini namun kadang secara tidak sadar kita melakukannya terhadap sesama kita.
Siapakah yang saat ini hampir terbuang dari keseharian kita? Mari kita ingat siapakah yang pernah memberikan pertolongan yang sangat berarti dan mengubahkan hidup kita. Apakah kita masih berkomunikasi dengan orang tersebut? Pernahkah orang tersebut membutuhkan pertolongan kita namun kita tidak memberikannya?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas terlalu ekstrim, namun bolehkah kita renungkan siapakah kawan lama yang terakhir kita ajak komunikasi? Mungkin teman sekolah atau teman kampus kita? Apakah kita mengetahui pergumulan apa yang saat ini tengah dihadapi oleh teman sebangku kita semasa SD? Kapankah terakhir kali kita bertegur sapa dengan mereka? Kapan terakhir kali kita menikmati arti ketulusan persahabatan bersama mereka? Ataukah kita terlalu sibuk untuk itu?

Hidup di masa sekarang memang membutuhkan kecepatan tinggi dalam melakukan segalanya namun mari kita coba berhenti sebentar dan mulai menyirami tanaman persahabatan yang dulu pernah kita sayangi. Sebaris pesan singkat, seuntai senyum, bertegur sapa di telepon atau mungkin kunjungan singkat seorang sahabat lama mungkin tidak akan mengorbankan banyak energi kita namun kita tidak akan pernah tau betapa besar artinya itu semua jika dilakukan dengan hati tulus untuk mereka yang dilanda kesendirian.

Mereka yang tengah dilanda kesendirian sangat rentan untuk terikat dalam kebiasaan mengasihani diri sendiri, terbenam dalam rasa merana dan tidak diperhatikan. Seberapa sering kita bertemu dengan orang-orang seperti ini selama ini?

Mari kita mulai bertindak memberi warna dalam kehidupan mereka. Kita dapat mengawalinya dengan mulai menghubungi kawan-kawan yang belasan tahun tidak pernah bertegur sapa lagi dengan kita. Mari kita bertindak terlebih dulu untuk menjembatani kesunyian yang selama ini menghalangi komunikasi kita dengan mereka.

Jika di saat ini kita tengah dikelilingi para sahabat, ingatlah selalu hari ini saat suatu hari nanti ujian datang melanda hubungan persahabatan kita. Bersabarlah dan tetap menerima kelemahan sahabatnya serta berdoalah mendukung pemulihan para sahabat kita.

Jika saat ini kita yang dilanda kesendirian, mari kita mulai berinisiatif untuk bergerak terlebih dulu. Berhenti menunggu diperhatikan dan mulai aktif memberikan perhatian serta kasih tulus kita. Berhenti mengeluh dan mulai latih kepekaan kita untuk menemukan siapa orang yang dapat kita berkati dengan kasih persahabatan yang tulus.

"Habis Manis, Sepah Dibuang" biarlah tetap menjadi peribahasa yang mengingatkan kita untuk selalu menghargai para sahabat yang pernah hadir dalam hidup kita. Jika kita sudah tidak dapat mempertahankan persahabatan yang pernah ada, setidaknya jadikan memori persahabatan tersebut sebagai harta bagi jiwa kita.
Selamat menjalin persahabatan.

*Image courtesy of beritasejagat.com

Tuesday, February 18, 2014

Merealisasikan Ide Bisnis


Chocotalker punya ide-ide bisnis yang ingin direalisasikan? Kebetulan tadi gue nemu link artikel menarik seputar itu. Simak di link berikut ya:

7 Langkah Lengkap untuk Segera Merealisasikan Ide Hebat Anda

*Image courtesy of http://lucyinnovation.wordpress.com/