Monday, September 1, 2014

Metamorfosis

Waktuku hampir tiba
Aku sudah melihat cahaya itu
Aku harus segera keluar
Namun aku begitu terikat
Kepompong ini sangat ketat
Dan aku tak mampu bergerak menerobos

Bolehkah aku menyerah sekarang?
Dengan sisa nafas ini kuberdoa
Biar kehendakMu yang terjadi
Aku tak mampu bergerak menuju cahaya itu
Namun waktuku sudah tiba
Jika aku berlambat, maka maut pun telah menanti

Sayapku begitu lemah
Aku tertatih beringsut menuju cahaya itu
Bolehkah aku menyerah sekarang?
Aku nyaris kehabisan tenaga
Namun aku harus segera keluar
Oksigen akan menguatkan sayap basah ini
Oksigen akan mengembangkan sayap ini
Dan aku pasti mampu terbang dalam wujudku yang baru

Tuhan,
Aku mohon bukalah jalan keluar kepompong ini
Sambil berdoa, kucoba bergerak lagi
Dengan harapan agar kali ini aku dapat meraih cahaya itu

Thursday, August 28, 2014

Taka Bonerate

Well, trip kali ini sebenarnya terhitung ‘nekat’ karena pada waktu nama tempat itu terukir di inbox terdengar asing pada awalnya.

TAKA BONERATE -  nama yang asing - salah satu keindahan alam ciptaan Yang Esa di Indonesia bagian Timur - pertama kali terlintas di pikiran adalah bayangan suatu tempat atau pulau yang dikelilingi oleh keindahan alam khas pantai Indonesia nan eksotik.

Perjalanan dari Bandara Sultan Hassanudin terbilang cukup jauh dengan jarak tempuh 6 jam dengan menggunakan mobil. Waktu menunjukkan pk. 6 pagi saat kami tiba di Pelabuhan Bira menunggu datangnya Ferry KMP Bontobaharu yang akan mengantarkan kami menyeberang ke Pulau Selayar.

Semburat matahari menyeruak awan mengusir kegelapan menciptakan siluet campuran warna jingga di temani dengan sosok kapal pinisi yang berdiri dengan kokoh di tengah balutan udara pagi nan sejuk.












Dua jam kemudian datanglah kapal Ferry yang kita tunggu-tunggu  yang akan membawa kita membelah lautan menuju Pulau Selayar. Perjalanan memakan waktu hampir 3 jam yang kemudian disusul dengan perjalanan darat menuju Wisma PKK tempat kita akan menginap di Pulau Selayar.
Tak sempat merebahkan diri, kami langsung di bawa ke pantai di Bantaeng, tempat kami menghabis kan waktu sebelum kami beristirahat sejenak, karena pagi-pagi sekali kami akan menyeberang menuju Pulau Tinabo.


Taka Bonerate adalah kumpulan pulau-pulau yang dilindungi oleh pemerintah setempat, terkenal dengan nama Taman Nasional Taka Bonerate. Taka sendiri menurut pemandu wisata kami artinya adalah Pulau.
Dari banyaknya pulau Taka Bonerate, kami mengunjungi beberapa Pulau diantaranya Pulau Tinabo, Pulau Latondu, Pulau Manta.
Keindahan alamnya sangat menakjubkan, terumbu karang yang indah serta air yang masih jernih sangat berbeda sekali ketika saat berkunjung di kepulauan Jawa.

Tinabo resort tempat kita menginap terletak di Pulau Tinabo, pulau yang tidak berpenghuni yang hanya di jaga oleh pekerja pelindung Taman Nasional dan polisi hutan.
Sepenggal pulau yang dipenuhi oleh pasir putih dan dikelilingi oleh hamparan air yang bening membuat kami seperti terhilang dari peradaban hiruk pikuk kota metropolitan, ditambah dengan rendahnya frekuensi signal menambah pekat kesunyian. :) 








Sapaan ramah dari sang mentari bisa kita rasakan saat pagi maupun saat petang, ramah, hangat, sejuk dan menawan – yang sulit kita dapatkan pada rutinitas hari saat mendulang aktivitas.












Terumbu karang yang memukau mata, baby shark yang lucu dan menggemaskan – tapi juga mencemaskan apabila kita kena gigit – dan juga pemandangan ikan-ikan lain di sepanjang spot spot snorkeling dan diving.
Well, semua perjalanan panjang dan melelahkan terbayar dengan keindahan dan keunikan Takabonerate, mungkin saja suatu saat bisa kembali menyapanya.

Additional kunjungan singkat - Makassar

Karena perjalanan kami harus melewati Makassar, maka tak pelak lagi hasrat untuk mengunjunginya menumpuk di angan-angan, segeralah kami bermalam di dekat pantai Losari, tempat di mana masyarakat Makassar berkumpul sekedar melihat-lihat atau berbelanja di seputar pantai, muda mudi pun bercengkerama di tengah keramaian manusia.

Makassar sarat dengan kebudayaan suku Bugis dan suku Makassar, begitupun kulinernya. Karena hanya kunjungan singkat kamipun tidak membuang waktu untuk segera mencoba berbagai makanan di Makassar seperti : coto Makassar, Jalang Kote, Palu Butung, dan ikan bakar yang masih segar dan manis rasanya, pisang epek dan berbagai makanan khas lainnya. Tak lupa oleh-oleh sebelum kembali ke Jakarta menambah berat barang bawaan kami.

All is worth, kelelahan tergantikan dengan kenikmatan yang tidak ternilai yang diraup oleh masing-masing penyuka alam. 

"The world is a book and those who do not travel read only one page" St. Agustine

Sunday, August 17, 2014

Dirgahayu Indonesia

Apakah kita bangga dengan kewarganegaraan ini?
Ataukah kita bersungut-sungut atas status kita sebagai WNI?
Adakah kita masih menuntut kelayakan hidup sebagai rakyat Indonesia?
Ataukah kita memilih bertindak dan memberkati bangsa Indonesia melalui segenap keberadaan kita; tanpa membedakan suku, agama, ras ataupun aneka alasan lainnya yang memecah persatuan bangsa ini?

Dirgahayu Indonesia.

Tuesday, June 3, 2014

After CG

"Es Pe Kaaa..!!"

"Bebas merdekaa!!"

Dear teman-teman, entri kali ini adalah tentang program Champion Gathering yang diadakan oleh sebuah pelayanan gereja, Abbalove Ministries, sabtu dan minggu lalu. Singkatnya, CG merupakan bagian dari program SPK (Saya Pengikut Kristus) setiap minggu, dengan peserta dari berbagai usia, namun sebagian besar adalah kalangan anak muda.

Acaranya sendiri kemarin seru. *Hehee... testimoni!* Iya, sudah lama banget saya ngga ikut acara seperti ini. Karena ini memang merupakan paket program yang mengupas poin-poin, yang kurang lebih merupakan pilar dalam pemuridan (menjadi murid Kristus), setiap sesi acara tentu juga kita berdoa agar peserta memperoleh apa yang menjadi kebutuhan; seperti menyembuhkan hati yang terluka karena masa lalu, karena hubungan yang tidak harmonis di dalam keluarga (pada pembahasan pertama, Hati Bapa).

Sesi kesaksian. Melalui kesaksian saya juga memperoleh banyak hal. Selain jadi tahu latar belakang beberapa peserta, saya juga cukup disadarkan bahwa banyak rupanya orang yang  memiliki story tidak seperti yang diharapkan. So, ngga perlu terlalu merasa diri sendiri paling malang. Selain itu, saya cukup salut dengan mereka yang mau membagi masa lalunya yang tidak happy dengan peserta lain, sebagai pelajaran hidup. Puji Tuhan, terdapat rekonsiliasi dan harapan barupun tumbuh.

Oya, ada juga sesi baptisan bagi yang merasa belum dan butuh untuk dibaptis. Memang disarankan, sih, bagi yang sebenarnya ingin.. Alasannya karena belum tentu juga sering-sering mendapati pelayanan baptisan.

Melalui apa yang saya perhatikan dan rasakan, sebagai peserta (waktu itu saya ikut bersama Ina) sempat terpikirkan oleh saya mengenai langkah-langkah saya sendiri. Yup... dengan menghadiri acara seperti ini, saya sendiri merasa perlu semakin sungguh-sungguh dalam Tuhan. Saya seperti mendapat paradigma baru (lagi-lagi hehe..), bahwa saya perlu berubah, makin serius dalam kehidupan rohani saya, selepas program CG.

Iya, selepas program CG. Bahkan setelah SPK secara keseluruhan selesai. Ketika kita kembali ke kehidupan sehari-hari. Seperti yang kita ketahui bersama, saat itu perjuangan bukannya berakhir, melainkan belum lama dimulai kembali.

Friday, April 18, 2014

Selamat Memperingati Paskah!

Hello Chocotalkers!

Wah, hari minggu sebentar lagi.. Minggu ini hari Paskah ya?

Habis googling tentang ucapan selamat paskah, nih. Yup, yang dalam bahasa Inggris sering terdengar dalam 2 versi. Itu, lo! "Happy easter!" dan "Happy passover!". Hm.. Kalian punya opini apa, nih, untuk topic ini? :)

Well, ternyata ada sedikit berbedaan cara pandang, ya. :) Tapi tidak apa-apa. Saya merasa hal ini tetap ada faedahnya. Apa itu?

Pertama, kita telusuri dulu yuk, tentang arti dari nama-nama itu.

'Easter' berasal dari nama dewi Isthar (dari Sumeria) atau dewi Eostre/ Astarte (dari Teutonik). “Easter” digunakan di Inggris, “Eastur” di bahasa Jerman kuno, sebagai kata lain musim semi.

Sedang di negara- negara lain, digunakan istilah yang berbeda: “Pascha” (bahasa Latin dan Yunani), ” Pasqua” (Italia), “Pascua” (Spanyol), “Paschen” (Belanda), …dst yang semua berasal dari kata Ibrani (“Pesach”) yang artinya “melewati” (lihat kamus alkitab). Inilah yang dimaksud "passover".

Okay... Kalau mengacu pada arti kata yang sebenarnya, saya setuju dengan "Happy passover!" dong.

Peristiwa paskah yang dilakukan Yesus di salib menunjukkan makna yang sama dengan yang terjadi pada bangsa Israel dalam kitab Keluaran 12, yaitu pembebasan bagi yang percaya kepada karya penebusan Tuhan. Namun tentunya, penebusan yang rela dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri merupakan penyempurnaan, karena sesudah Yesus menang atas maut, tidak ada lagi korban yang diperlukan untuk mengambil darah penebusan (seperti yang dibubuhkan bangsa Israel di tiang pintu).

Nah, entah bagaimana dulu terjadinya, sepertinya istilah easter yang dikaitkan dengan musim semi, atau timur di mana matahari terbit, atau ada yang mengkaitkan dengan legenda bangsa Yunani yaitu dewi Ishtar, memiliki peristiwa yang dipaspasin supaya mirip.

Bisa saja dulu misionaris menganalogikan paskah dengan itu semua dalam rangka memperkenalkan paskah. Seperti telur paskah yang dimaknai sebagai awal kehidupan. Padahal, itu semua tentu bukanlah pengajaran tentang paskah yang sebenarnya.

Tapi seperti yang saya katakan tadi, hal ini (yaitu mengupas ataupun mempersoalkan atau mendiskusikan, mana sih istilah yang betul) tetap ada faedahnya. Yaitu menyebabkan makin diperdengarkannya kasih Tuhan, yang mengadakan paskah bagi umat manusia.

Yup. Bagi orang-orang yang tidak mempermasalahkan namun sudah paham mengenai perayaan paskah sesuai firman Tuhan sih, it's OK. Tapi toh belum tentu pula yang tahu itu bicara (apalagi secara jelas?) kepada yang belum tahu, kan? Nah, sering kali, hal-hal sepele seperti protes kecil kecilan itu justru jadi media tersebarnya berita tentang Tuhan. Bahkan jadi alat pemicu seseorang jadi concern akan kebenaran.

Sebetulnya saya pribadi sih termasuk yang tidak mempermasalahkan istilah-istilah itu. :D Iya, itu karena saya rasa, yang lebih penting untuk dimengerti itu sejarahnya. Bahwa setelah Yesus disalib lalu wafat, pada hari ketiga Ia bangkit dan menang atas dosa. Itu yang dimaksud dengan passover.

Well, dengan memposting ini, saya berusaha memperjelas sedikit tentang fakta paskah yang sebenarnya. Sekaligus kenapa sampai dihubungkan dengan hal yang tidak ada hubungannya dengan pengorbanan dan kebangkitan Yesus.

Jadi Chocotalkers, jangan beranggapan merayakan paskah harus dengan menghias telur atau ilustrasi kelinci lagi, yaa.. Karena itu sudah bukan inti dari paskah sesungguhnya.. ;)

Happy passover, Chocotalkers! Bahkan ingatlah tentang kemenangan Kristus setiap saat, bukan hanya pas hari paskah saja! :)

Wednesday, April 9, 2014

Seri Kisah Pengusaha: Sejarah Taksi Blue Bird (Bagian 1)


Gara-gara banjir, suatu hari gw terjebak kemacetan di Jl Mampang Prapatan dalam perjalanan menuju kantor. Daripada menggerutu bete, gw iseng perhatiin situasi di sekitar. Lalu terlihatlah pool Blue Bird yang sebenernya sering gw lewatin, tapi sebelumnya ngga pernah memunculkan inspirasi apa-apa. Entah kenapa di hari itu tiba-tiba muncul rasa penasaran, gimana sih sejarahnya perusahaan ini?

Gw termasuk pelanggan setia taksi Blue Bird, dan sejauh ini gw cukup puas dengan layanannya. Ngeliat Blue Bird yang jumlah armadanya terus bertambah, fasilitasnya cukup diperhatikan, dan ngga segan2 invest untuk teknologi baru (misalnya GPS, di jaman GPS belum booming seperti beberapa tahun terakhir), gw dulunya berasumsi kalau Blue Bird ini pasti dari awalnya didirikan dengan modal kuat didukung fasilitas lengkap. Maka itu dia bisa survive sekian lama dan tetap memimpin di dunia transportasi, khususnya layanan taksi. Sepengetahuan gw, pengemudi2 Blue Bird relatif lebih sejahtera atau mendapat imbalan yang lebih layak dibanding perusahaan taksi lain. Intinya, dari layanan mereka, pelanggan juga bisa merasakan kalau perusahaan ini dikelola dengan baik, sepenuh hati, dan nggak asal2-an.

Tapi, dengan fasilitas dan layanan ok itu, benarkah asumsi gw bahwa Blue Bird didirikan dengan 'mudah' didukung modal yang kuat? Uhmm.. setelah gw tanya2 mbah Gugel dan baca2 beberapa sumber yang keluar, barulah gw sadar ternyata asumsi gw keliru!

Blue Bird bukan didirikan pengusaha kaliber kakap dengan modal melimpah. Sebaliknya, berdirinya Blue Bird diprakarsai seorang wanita sederhana yang baru saja ditinggalkan suaminya yang wafat karena sakit. Wanita itu adalah almarhumah Ny. Mutiara Djokosoetono.

Bu Djoko lahir pada tanggal 17 Oktober 1921 di tengah keluarga berada, namun pada usia 5 tahun keluarganya bangkrut. Ia meniti bangku sekolah dalam kesederhanaan luar biasa. Makanan yang tak pernah cukup, pakaian seadanya, tak pernah ada uang jajan. Hidupnya betul-betul bertumpu pada kekuatan untuk tabah. Menginjak remaja ketegarannya semakin terasah. Ia pun bertekad memperkaya diri dengan ilmu dan kepintaran. Di saat sulit itu ia suka membaca kisah-kisah inspiratif yang ia peroleh dengan meminjam, salah satunya adalah kisah legendaris yang selalu menghiburnya: 'Kisah Burung Biru' atau 'The Bird of Happiness'.

Usai menyelesaikan pendidikan HBS dan lulus Sekolah Guru Belanda, Bu Djoko memutuskan merantau ke Jakarta dan berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kemudian jalan hidup mempertemukannya dengan Djokosoetono, dosen yang mengajarnya, sekaligus pendiri serta Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Mereka menikah ketika Bu Djoko masih kuliah.

Bu Djoko dikaruniai 3 anak yaitu Chandra Suharto, Mintarsih Lestiani, dan Purnomo Prawiro. Sepanjang dasawarsa 50-an, Bu Djoko menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Ia dan keluarganya menempati rumah dinas atas pekerjaan suaminya di kawasan Menteng. Walau dikelilingi lingkungan yang mewah dengan status ekonomi di atas rata-rata, keluarga Djokosoetono praktis hanya memiliki uang kebutuhan berjalan. 

Untuk menambah penghasilan keluarga, Bu Djoko berjualan batik door to door. Tak ada gengsi, tak ada malu, tak ada rasa takut direndahkan oleh sesama isteri pejabat tinggi. Semuanya dilakukan murni sebagai kepedulian isteri untuk membantu suami mencari nafkah. Namun penjualan batik yang sempat sukses kemudian menurun. Bu Djoko pun berganti haluan menjadi penjual telur. Saat itu telur belum sepopuler sekarang dan dianggap bahan makanan eksklusif yang hanya dikonsumsi orang-orang menengah ke atas. Bu Djoko mencari pemasok telur terbaik di Kebumen dan perlahan-lahan usaha telur Bu Djoko dan keluarga terus meningkat. 

Akan tetapi, kegembiraan atas keberhasilan usaha ini tidak berlangsung lama, karena kesedihan memikirkan sakit Pak Djoko yang tak kunjung sembuh. Walau mendapat perawatan yang ditunjang sepenuhnya oleh pemerintah, akhirnya beliau wafat pada tanggal 6 September 1965.

Bagaimana Bu Djoko menghadapi masa sulit ini dan akhirnya mendirikan layanan taksi Blue Bird? Nantikan di entry berikutnya, ya..

Friday, April 4, 2014

Marketing 3.0 di Khotbah Minggu

Cuma teringat lagi khotbah di gereja minggu terakhir kemarin. Jadi saat itu khotbah yang dibawakan mengenai Tuhan Melihat Hati.

Dalam kesempatan itu, pendeta yang membawa firman mengulik sedikit tentang marketing 3.0.

Apa itu marketing 3.0? Saya bertanya dalam hati. Entah baru dengar atau dulu sudah, tapi lalu lupa. :D

Ternyata setelah googling, kira-kira inti dari marketing 3.0 itu, dilakukan berdasarkan nilai-nilai universal, seperti kasih dan ketulusan. Jadi fokus perusahaan tidak hanya menjual produk, tidak juga hanya memuaskan dan membuat konsumen loyal. Lebih dari itu, membuat dunia menjadi lebih baik. Perusahaan melihat konsumen sudah secara holistic; tidak sekedar fisik, ataupun emosi dan rasio, namun keseluruhan; mind, body, spirit. Begitu kira-kira, yang berhasil saya cek.

Namun Chocotalker, kita ngga hanya penting mengetahuinya, ya. Sebagai mahluk sosial dan mungkin juga bersemangat entrepreneur, nilai-nilai itu tentu penting untuk diterapkan, karena tentunya mendukung hubungan baik kita dengan sesama dan juga diri kita sendiri. Iya.. dengan diri kita, karena dengan demikian kita akan bersikap tulus terhadap orang lain, sebagaimana terhadap diri sendiri. Jadi dalam berbisnis kita ngga men-set up pikiran dengan pola “yang penting gue untung, ngga peduli orang lain”. ;)

Sekedar teringat, dulu waktu saya masih SD, saya tertarik dengan supermarket. Kenapa? Dunia rasanya praktis. Tidak perlu lagi interaksi yang penuh basa basi. Barang tinggal ambil, bayar, lalu pulang. Begitu juga kalau saya yang jadi kasir, tinggal hitung, terima uang, bungkus barang konsumen, selesai. Hehe… Efek dari rasa malu atau terlalu membatasi diri dari pergaulan? *nyengir*

Yang jelas, makin ke sini saya makin sadar, mau setertib apapun sistem yang dibuat, tetap perlu pakai hati. Toleransi. Keikhlasan. Bentuk paling sederhana yang mudah diterapkan adalah senyum, meskipun pada orang yang sepertinya tidak penting.

Akhirnya, mungkin karena materi itu mulanya dari pendeta, saya menyimpulkan sendiri: Marketing 3.0 baru sukses diterapkan kalau manusia melakukannya setulus melakukan untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Gimana menurut kalian, Chocotalker? Tulis pendapat kalian di kolom comment yaa.. Thank you ;)